TEKNIK INFORMATIKA

Post Page Advertisement [Top]






JAKARTA - Faktor atau unsur keberuntungan, khususnya dalam bisnis, tidak bisa dikesampingkan. Ketika peluang tiba dan kita siap, peluang itu menjadi unsur keberuntungan. Dalam dunia bisnis itu dikenal sebagai hoki atau good luck.

Namun, jika kita tidak siap, peluang itu akan berlalu dan tidak pernah kembali. Perkembangan usaha ditentukan dengan banyaknya kemenangan dalam persaingan; menguasai pangsa pasar sebesar mungkin. Masing-masing pemain berusaha maksimal melalui berbagai kegiatan guna merebut pangsa pasar sambil mempertahankan yang sudah ada dalam genggaman.

Mereka menyusun strategi untuk memenangkan persaingan, kemudian menuangkan strategi ke dalam perencanaan. Seyogianya, perusahaan memiliki beberapa alternatif mengingat persaingan sangat dinamis. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi dan jika kita tidak siaga, reaksi yang timbul akan menggulung balik, melumpuhkan kita.

Menurut Bryan Pearce, Direktur dari Lembaga Entreprenur of the Year dan Venture Capital Advisory Group Ernst & Young , sedikitnya ada delapan faktor yang berada di belakang strategi memenangkan persaingan. Kesimpulan tersebut diambil setelah melakukan wawancara terhadap sekitar 600 entrepreneur di Amerika:

1. Berani menghadapi dan mengambil risiko. Di balik risiko ada potensi bisnis, tidak ada bisnis tanpa risiko. Para entrepreneur tidak pernah merasa ragu mengambil risiko ketika merasa yakin ada bisnis di baliknya, setidaknya fifty-fifty, terlebih lagi jika peluang jauh lebih besar dari risiko.

Mereka yang tidak berani dan banyak ragu umumnya bukan tipe entrepreneur dan kecenderungan untuk gagal. Sebagian besar mereka yang diwawancarai berkeyakinan bahwa entrepreneur dilahirkan, bukan dibentuk.

2. Membangun tim yang kokoh. Keberhasilan dalam dunia bisnis tidak terlepas dan sangat bergantung kepada mereka yang mengerjakan, berkoordinasi, dan bersama mencapai sasaran. Tim yang kokoh tidak hanya sama-sama bekerja, namun bekerja sama yang efektif, masing-masing bertanggung jawab secara pribadi, juga secara tim, saling mengisi, menempatkan ”the right people in the right place”.

3. Memiliki daya tahan dan pantang menyerah. Bisnis tidak luput dari naik-turun. Seorang entrepreneur sejati mengalami beberapa kali jatuh bangun. Kejatuhan dapat disebabkan pengaruh dari luar; kalah dalam persaingan, namun sering kali juga disebabkan kesalahan internal. Seorang entrepreneur tidak berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan dan menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, akan tetapi segera bangkit dari keterpurukan.

4. Merangkul inovasi. Kita sering mendengar bahwa untuk dapat memasarkan atau menjual kita perlu memperhatikan 4P yang disebut marketing-mix: product, price, promotion, dan place (distribusi). Namun, itu semua belum cukup tanpa unsur ”i” (inovasi). Hampir semua keperluan manusia telah dijual di pasar.

Jika produk yang kita jual tidak berbeda dengan yang lain, apalagi kita sebagai pendatang baru, peluang untuk menang; mengambil pangsa pasar sangat tipis, dan tidak mustahil begitu diluncurkan, langsung gagal.

Jenis boleh sama, fitur dan fungsi boleh sama, namun harus ada sesuatu yang berbeda, lebih menonjol dan berfungsi sangat baik. Untuk menjadi terbiasa dengan pemikiran inovatif, Leland Stanford, pendiri Stanford Univeristy, menyarankan kita perlu membiasakan diri berimajinasi. Tanpa imajinasi tidak ada inovasi.

5. Fokus pada kompetensi inti (core competencies). Masing-masing pribadi memiliki kelebihan dan kekurangan, pengetahuan dan pengalaman. Di belakang perusahaan adalah orang-orang yang memiliki kompetensi dengan latar belakang tersebut. Dengan berfokus pada kompetensi inti, akan membangun kekuatan yang lebih kokoh seperti benteng yang kuat dibandingkan dengan semua mengerjakan semua, serba tanggung dan akibatnya menghasilkan serba setengah- setengah.

6. Mengejar ekspansi. Bisnis tidak statis. Jika kita tidak berkembang sementara perusahaan lain, pesaing berkembang, kita ketinggalan. Perkembangan usaha dapat dilakukan dengan berbagai cara; memperluas area pemasaran termasuk ekspor secara geografi, namun juga secara demografi, kemudian dengan menambah jenis produk dan juga melakukan dua-duanya secara serentak.

7. Perhatikan permodalan. Keinginan untuk berkembang adalah niat yang sehat, namun memerlukan dukungan permodalan. Modal bisa diperoleh dengan berbagai cara, mulai dari pinjaman bank, penyertaan modal dari pemilik saham dan investor, go public, termasuk bermitra (joint-venture). Keuntungan yang diperoleh dari bisnis berjalan sebagian dicadangkan untuk ekspansi bisnis baru.

8. Perkuat apa yang sudah dibangun. Jangan terlalu mudah meninggalkan bisnis yang telah dibangun dengan susah payah oleh karena tertarik dengan peluang bisnis baru. Bisnis baru hanya boleh untuk ditambahkan, bukan menggantikan, terkecuali dalam perjalanan bisnis baru begitu berhasil melampaui bisnis yang telah dibangun terlebih dahulu, terjadi pertukaran secara alamiah, tidak dipaksakan.

Dalam strategi pemenangan bukan saja terhadap perusahaan pesaing, namun dapat juga dilakukan secara internal; produk yang ada perlu dari waktu ke waktu ditinjau ulang, bagaimana dapat memperbaiki dan meningkatkan pangsa pasar.

Jika dengan produk yang ada tidak memungkinkan lagi, perlu mengeluarkan produk baru yang lebih inovatif, memasuki pasar yang sama secara geografis, namun berbeda secara demografi sehingga saling melengkapi. Persaingan mendorong perkembangan jika kita memiliki strategi yang benar

 

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]